Simfoni Hitam Shaza.


Hitam. Putih.
Apakah hanya ada itu dalam duniaku ?
Dan apakah selamanya aku hanya lihat itu dalam sanubariku?
Mereka bilang hidup itu adil.
Tapi tidak bagiku.
Aku sendiri.

Mata Syazha terus terpaku. Seolah mata itu tak pernah berhenti menunggu. Mata itu selalu menanti. Ia selalu berharap bahwa keluarganya kembali padanya. Mama dan Papanya . Mereka pergi meninggalkannya,sendiri. Mereka pergi untuk selamanya. Kini hanya tinggal Willy yang selalu menemaninya. Kakak  yang tak pernah berhenti untuk menjaganya. Dan berusaha menghiburnya sebisa ia. Terkadang, Willy lelah dengan tingkah adiknya. Tak  mau makan,tak  tidur , bahkan setetes air pun tak masuk dalam kerongkongannya. Selama seminggu ini ia terus mengurung dirinya dalam balutan kesedihan.
“Sampai kapan kamu mau seperti ini, Shaza. Aku lelah dengan kesedihan mu. Mana Shaza yang ceria? Yang selalu tersenyum .” Tanya Willy.
Gadis itu tetap terpaku dalam duduknya. Matanya tak sedikit pun mengisyaratkan untuk menjawab. Willy duduk di sampingnya dan melihat kedua bola mata itu dengan penuh harap agar adiknya kembali. Namun hanya ada kekosongan yang mengisi.
“Shaza.. “
“Kak,kenapa di dunia ini harus ada hitam dan putih ? Kenapa di dunia ini harus ada hidup dan mati ? Kenapa di dunia ini gak ada pilihan yang terbaik?” ujar Shaza, sejenak Willy berdiri dan berjalan ke hadapan Shaza dan berkata
“Jika kamu bertanya seperti itu,itu sudah merupakan takdir. Takdir Tuhan , dan Papa Mama pergi selamanya juga takdir. Kecelakaan itu memang sudah takdir.”
“Takdir itu kan bisa di ubah kak…”
Willy melihat kesedihan yang tak bisa lagi ditahan oleh adiknya. Segera ia memeluknya dan membiarkan adiknya untuk menangis di pelukannya. Kini perasaannya sangat teriris melihat semua yang telah terjadi. Sesaat ia berfikir bahwa Tuhan tak adil. Tapi ini memang sudah takdir dan ia memang harus menerimanya. Willy sudah cukup dewasa umurnya yang beda dua tahun dengan Shaza membuat ia sudah mengerti bagaiman sifat adiknya itu.
Lusa ia dan Shaza sudah harus  masuk sekolah. Namun,ia tidak tega membiarkan shaza yang  kini masih terselubung  kesedihan.
                “Mulai sekarang kakak nggak bolehpergi ninggalin aku sendiri.” Ujarnya yang kini tengah berhenti menangis.
                “Iya Shaz,kakak ngga akan pernah ninggalin kamu. Kakak sayang sayama kamu,selama-lamanya.” Ucapnya dan kembali dipeluknya Shaza .
Tak ada jawaban, dan itu berarti Shaza telah lelah untuk kembali menangis. Ia tahu bahwa adiknya masih sangat terpukul.
                “Shaz,besok kamu masih kuat buat sekolah kan ? Besok kakak anter ya”
                “Masih. Iya Kak.”


                                                                                ***
Pagi itu. kelas 12 IPA 1..

“Will,gueturut berduka cita ya tentang kejadian itu,” ujar Kiki yang duduk disampingnya dengan raut kesedihan. “oiya,gimana adek lo ?” sambungnya.
                “Dia masih terpukul,tapi udah agak tenangan sih. Sekarang dia berubah.” Willy menunduk.


*Bel berbunyi*

Syazha masih termenung dalam lamunannya. Hari ini hari pertamanya ia sekolah. Maklum selama seminggu ia tidak sekolah karena izin. Zizi langsung menghampirinya. Dan saat itu juga Zizi tahu bahwa Shaza sedang tak ingin banyak bicara.
                “Shaz..”
                “Gue lagi nggak mood buat ngomongin hal yang nggak penting Zi!”
Tanpa bertanya mengapa,Zizi langsung menggangguk ia yakin alasannya karena ia masih sedih tentang kedua orang tuanya.
                “ Shaz minggu depan kan kita libur,meskipun 3 hari. Ada planning ke mana ?” tanya Zizi yang langsung membuka buku fisikanya yang lupa ia kerjakan karema asik nonton film.
                “ Mungkin ke Bandung. Ke rumah nenek sama kak Willy.” Jawabnya lalu ia pergi dan melesat  ke kelas Willy.

                                                                                                ***

                Tiba-tiba Rico berdiri di samping Zizi. “Zi Shaza masih marah ya sama gue ?” Tanya Rico dengan wajah tanpa ekspresi.

Tiga minggu  lalu ia kerumah Shaza  dan dan tanpa permisi ia masuk ke kamar Shaza karena tak ada orang. Namun,seketika Shaza datang dan melemparinya dengan sandal yang ia pakai. Shaza paling gak suka kamarnya dimasukin orang tanpa permisi meskipun itu temen baiknya sendiri.
Rico memang sudah berteman dengan Shaza dan Willy dari kecil. Tapi Rico tidak tahu Cuma karena hal itu,Shaza marah besar padanya. Teleponnya tak pernah diangkat. Sms tak pernah dibalas. Namun,Willy dengan senag hati mengiriminya kabar tentang adiknya pada Rico. Sampai tragedy itu,sampai keadaan Shaza ia tahu dari Willy karena ia hanya sekali saja ia kerumahnya untuk berdoa bersama atas kepergian kedua orang tuanya. Dan ia juga tahu bahwa Shaza sangat terpukul . ia di izinkan oleh Shaza atas  bujuk Willy. Rico sudah meminta maaf berulang kali pada Shaza namun percuma.

                                                                                                ***
                “Liburan nanti, gue sama Shaza mau ke Bandung. Kerumah nenek gue. Mudah-mudahan suasana disana bisa ngebantu dia buat nggak terus,terusan sedih. “ ujar Willy pada Rico
                “amin deh,bilangin ke Shaza juga ya maafin gue. “ pinta Rico sambil memelas di bawah kaki Willy.
Ingin rasanya ia tertawa. Namun,jahat sekali kelihatannya. Dengan bijak,ia menjawab “Ia, pasti Ric.” Dengan senyum tipis di bibirnya .

                                                                                                ***
Tangis,selalu mengiringi tawa.
Suka selalu mengelilingi duka.
Ketika aku harus menerima kenyataan.
Untuk kali ini sangat berat untuk menerimanya.
Mama-Papa,kini pergi ke surga.
Aku yakin dengan segenap hati.
Mama-papa selalu memantau Shaza dan Willy.
Bagi Shaza Mama-Papa akan abadi.
Meski ku tak bisa menyentuh kalian.
Walau ku tak bisa memeluk Mama-Papa.
Empat kata yang kini ku ingin ucapkan
Shaza Cinta Mama-Papa.

                Tulisan itu menghiasi diary ungu milik Shaza.                                                                      
Maaf…

Liburan telah tiba. Saatnya murid-murid kelas 10,11,dan 12 adem-ayem dirumah setelah melaksanakan ujian semester 1. Yah meskipun ngga panjangggg.
Pagi-pagi sekali Willy dan Shaza bersiap-siap untuk berangkat.

                Dalam perjalanan,Shaza hanya duduk terdiam melamun. Sesekali memainkan vcd yang ada di dashboard mobilnya.  Sesekali pula Willy melihat ke arah Shaza dan berbalik focus melihat jalan di depannya. Willy membawi mobil jazz sendiri karena ini ketiga kali ia menyetir mobil. Dan terakhir,sebulan lalu saat ia dan keluarga nya pergi ke Dufan  di hari minggu itu sebelum Tuhan mengambil nyawa kedua orang tuanya.

Sesampainya di rumah neneknya. Shaza langsung memeluk neneknya dengan tangis yang sudah tak dapat ditahan kagi. Willy memahami itu. kehilangan merupakan masa yang tak pernah diinginkan seorang manusia. Apalagi kehilangan kedua orang tuanya dengan secepat waktu. Terkadang waktu terasa kejam. Menyajikan senyum keceriaan hanya untuk sesaat dan langsung menyisakan kesedihan yang mendalam. Waktu memang hanya bertugas  untuk berjalan kedepan. Dan mau berusaha sekuat apapun untuk membalikkan waktu. Waktu tetap tak mau. Karena ia sudah di takdirkan untuk kedepan. Bukan kebelakang.

***

Gadis itu duduk di pinggir rawa-rawa kecil. Baginya ini bukan rawa-rawa. Melainkan danau terindah yang dimilikinya,setiap ia kesini pasti ia akan bisa melupakan atau setidaknya menghilangkan sedikit kesedihannya. Gadis itu tersadar,sedari tadi  ada yang memperhatikannya.
                “Mending lo keluar dari situ deh. Norak tau. Emang gue daritadi ngga liat lo apa ?” ujar gadis itu berdiri di sisi Danau sambil memegang sebuah batu kerikil.
                Pria itu akhirnya menyerah dan keluar,”sorry Shaz gu..”
                “Apa? Lo itu selalu aja datang disaat yang ngga tepat. Udah gitu sok ngumpet-ngumpet dari gue .” bentak Shaza “Ngapain lo kesini ? ngutitin gue ya ?” menyambungnya cepat.
                “Idih pede,orang gue juga liburan kesini. “
Shaza  kembali duduk di pinggir danau kecilnya sambil merapatkan kedua kakinya ke dadanya. Rico tahu,saat itu juga Shaza kedinginan dengan udara sekitar karena memang masih pagi buta.
Dengan cepat Rico memakaikan jaket yang dikenakannya ke tubuh Shaza.
                “Apaan nih?” dengan mata melotot
Tanpa ba-bi-bu. Rico lagsung memeluk tubuh Shaza erat-erat. Ada perlawanan dari gadis itu. ada pukulan kecil dari gadis itu. namun, Rico tetap memeluknya. Seolah ia tak ingin Shaza pergi.
Setelah ia merasa tak ada perlawanan dari gadis itu,perlahan tapi pasti. Ia melepas pelukan eratnya. Ia tersenyum. Namun,gadis itu tetap dengan ekspresi cemberutnya . hal itu membuat Rico gemas dan Mencubit pipi merah gadis itu .
                “ Lo ngapain sih ngikutin gue ? Meluk gue ? dan sekarang nyubit pipi gue? Belom puas gue amukin kemaren ?”
Seketika Rico menutup mulut gadis itu dan menyuruhnya  diam ,karena jeritan Shaza bisa membangunkan seisi penduduk di dunia ini (ngga juga sih). Tangan kiri Rico bersembunyi dan tiba-tiba tangan itu berisi 2 batang coklat dan 2 lollipop warna-warni.
                “mau ini kan “ Rico melirik ke tangan kirinya.
Tanpa ini-itu Shaza langsung mengambilnya,namun sayang. Gagal!
                “Kalo mau ada syaratnya.” Sahut Rico “Satu,bolehin gue duduk disamping lo. Dua, ini lollipop dan coklat bagi dua. Tiga, lo harus maafin gue. Ngert?i”
                “minta maaf kok maksa.”
                “Yaudah berarti ngga mau.”
                “Hmm,gimana yaaa. Yaudah deh kalo bukan karena ini, mungkin gue ga bakal bilang ‘Iya’.” Jawab Shaza dengan bibir yang di majukan.
Rico merasa bahagia kini, Shaza memaafkannya. Dan ia sudah menang untuk membuat Shaza tersenyum. Seengganya untuk kali ini.
                Rico berbalik kesamping sehingga kini ia bisa melihat bola mata Shaza. Shaza menyadari itu,dan ia tetap tak acuh karena hal itu., ia tetap memandang permukaan danau yang tenang itu.
                “Shaz,ntar sore makan yuk. Ke  restoran favorit lo  “ ajak Rico
                “Ngga mau kalo naik motor lo.”
                “Gue kan ke Bandung naik mobil.” Sahut Rico dengan jari yang menunjuk kea rah mobil minicooper di balik pohon .
                                                               
                                                                                Welcome,Love.

                Cinta? Mungkin kata ini yang sekarang menghiasi hati dan fikirannya pada Syazha. Satu kata yang kini ada dalam hidupnya. Bisa dibilang Cinta ini datang kembali. Setelah cinta pertamanya pergi.
                Cinta bukanlah hal yang harus ditakuti. Cinta bukanlah suatu hal yang harus dihindari. Dan cinta bukanlah hal yang salah dalam hidup kita. Ketika kamu merasa bahwa dirimu bisa tersakiti karena Cinta. Itu salah. Salah besar. Karena yang membuat cinta itu menyakitkan adalah saat kamu merasa bahwa kamu tak mampu mendapatkannya. Mendapatkan hatinya. Dan seketika itu pula kamu berjanji pada dirimu untuk tidak jatuh cinta lagi. Itu salah.
Hal itu membuatmu salah jalan. Tahukah kamu,mengapa cinta tak pernah semulus yang kita inginkan? Karena kamu punya takdir. Tapi takdir. Bisa diubah. Ketika Rico merasa Cinta pertamanya itu mencampakkannya begitu saja,ia terpuruk. Namun,ia tersadar selama ini Syazha yang membuatnya melupakan Cinta Pertamanya, membuatnya bangun kembali. Membuatnya mengerti mengapa itu terjadi. Karena satu hal.
                Itu adalah Takdir. Dan ia berharap bahwa Syazha  adalah pilihan terbaik dari Tuhan.
                                                                               

                                                                                                ***

Shaza terdiam dalam duduknya, mengamati bintang di balkon kamarnya. Ia duduk terdiam memeluk boneka panda besarnya yang diberikan oleh mamanya di ulang tahunnya yang ke 16 .
Kata-kata Rico tadi Sore masih terngiang di fikirannya.

“Shaz, would you be my girlfriend?” Tanya Rico dengan ekspresi harapan. Sepontan Shaza yang sedang menikmati makanan dengan penuh ketenangan,seketika itu pula ia tersedak, “uhuk..uhuk…”. Dengan sigap Rico memberikan segelas air minum,ia turut panic dengan tingkah Shaza. “Lo ngga apa-apa kan,Shaz.” Tanya Rico dengan wajah panik.
“ba.. rr.u.ssan, lo ngomong apaan?”sahut Shaza dengan wajah yang memerah
“ah,engga. Lupain aja” entah mengapa,Rico merasa seolah dia menjadi keledai bodoh dengan mengucapkan kata-kata itu. ia tak mempunyai keberanian untuk mengulang kata-kata itu. Lagi.
Rico berdiri dan mengeluarkan uang 3 lembar lima puluh ribuan dan langsung menarik tangan Shaza, “Shaz,udah malem ayo pulang.” Awalnya Shaza bingung dengan sifat Rico yang seperti itu. tapi ia enggan bertanya,karena ia juga masih bingung dengan pernyataan Rico yang membuatnya kaku.

Shaza tidak sadar bahwa sedari tadi Willy memperhatikannya. “Kamu kenapa Shaz?” suara Willy mengagetkan lamunan Shaza.
            “Ngga apa-apa kak. Kok kakak masuk ke kamar ku tanpa ketok pintu sih ?” Shaza berdiri dan menghampiri Willy yang  duduk di ranjangnya.
            “Ngga apa-apa, kok dari tadi ngelamun.” Goda Willy “Lagi jatuh Cinta ya?” sambungnya. Shaza langsung mati kaku,entah kenapa pernyataan kakaknya membuatnya bingung.
            “Udah ngaku aja. Kalo perlu, cerita sama kakak.”
            “Engga,tadi tuh Rico ngajak aku makan di restoran,”
            “oh biar kakak tebak..”
            “ish apaan sih,dengerin dulu kek. Mau tau ngga ?” bentak Shaza. Willy tak tahan ingin tertawa melihat Shaza marah. Namun,ia yakin bahwa hal itu dilakukannya akan membuat Shaza bisa mencincangnya jadi tujuh karena Shaza paling ngga suka kalo omongannya di putus gitu aja
            “Kalo gue ngga salah denger. Rico bilang gini ‘Shaz,would you be my girlfriend?’. Tapi gue sih ngga terlalu yakin,soalnya kakak tau sendiri kan semenjak Rico ditinggal cinta pertamanya dia jadi pendiem,penutup,dan ngga kayak dulu kita kecil deh”. Lanjut Shaza
            Willy mengerutkan keningnya mendengar kata-kata adiknya. Dia tak menyangka,Rico bisa jatuh cinta pada adiknya. Padahal dulu Rico bilang padanya kalu dia ngga mungkin suka sama Shaza karena dia cerewet banget,suka ngambek,dan jail. Tapi dulu Rico juga pernah bilang juga  kalau adiknya itu cantik. Pipinya imut dan rambutnya hitam kelam dan terurai panjang membuatnya merasa bahwa Shaza wanita tercantik sebelum bertemu dengan cinta pertamanya.
            “Woy,kok kakak malah bengong sih.” Suara Shaza yang mengagetkan Willy dari lamunannya.
            “Eng.. bagus dong kalo Rico suka sama kamu. Berarti kamu ada yang suka juga,haha” canda Willy. Mendengar kata-kata ‘ada yang suka juga’ membuat telinga Shaza terasa panas.
            “Jadi,bagi kakak aku jelek” sahut Shaza yang juga memajukan bibirnya.
            “haha ya engga lah,kamu kan adik tercantik bagi Willy. Kamu gadis Tercantik punya Willy.” Jawabnya sambil mengacak rambut Shaza. “yaudah kamu bobo gih. Udah malem,besok sekolah.” Sambungnya.
            “Sip. Malam kak Willy.”

                                                                        ***










The Begin of Enemy

Pagi itu. gerbang SMA Titania,Jakarta.

            Brukk..
Buku-buku yang dibawa Shaza di tangannya terjatuh karena  tertabrak oleh seseorang. Sikutnya memerah dan ia sudah bersiap mengumpulkan amukan untuk orang yang menabraknya. Ia langsung berdiri dan melihat sesosok cowok yang nggak dikenalnya.
            “Heh,lo punya mata ngga sih. Gue buru-buru nih pake lo tabrak. Liat nih siku gue merah.” Ujung jemarinya menunjuk ke siku kanannya.
            “Maaf. Gue juga buru-buru. Nih buku-buku lo!” jawab cowok itu singkat. Shaza melihat wajahnya,tatapannya yang dingin. Seolah mata itu mata tak ada rasa bersalah. Lelaki itu bergegas masuk ke lorong kelas dan menghilang.
            “Gila ya,ada gitu cowok yang kayak hantu. Ngilang gitu aja .” gerutu Shaza
Sesegera ia membereskan bukunya dan bersiap masuk ke kelas.


                                                                        ***
Bel berbunyi.
            Shaza masih berkutat dengan buku pr matematikanya. Pasalnya ia lupa bahwa ada pr dan semalam ia langsung tidur. Untung ada Daniel yang dengan senang hati meminjamkan buku pr matematika miliknya. Bukannya dia nggak mau minjem sama Zizi. Zizi aja juga lupa kalo hari ini ada pr matematika sama biologi. Untungnya Shaza sudah mengerjakan tugas biologi kemarin.

            “Selamat pagi anak-anak.” Suara tegas pak Gadot  mengagetkan Shaza. Sebenernya namanya bukan pak Gadot. Melainkan Yahya. Tapi berhubung kepalanya kecil dan badanya segede Kebo Bule. Anak-anak manggilnya pak Gadot.
            “Pagi.. pak.. “ jawab murid-murid kelas X IPA 1
            “Nama saya Alexander Jonathan. Kalian bisa panggil saya Alex. Saya kira cukup pak.”
Anak itu. anak tadi pagi yang menabrak Shaza. Tatapannya masih sama. Dingin. Shaza langsung geram melihatya. “kenapa dia mesti sekelas sama gue.” Batinnya










Perkenalan itu…

Cowok itu emang ganteng. Postur tubuhnya tinggi. Tampang blasteran Pakistan . Tapi hal itu ngga membuat Shaza tertarik. Walaupun semua cewek satu sekolahan ini naksir berat sama Alex. Baru seminggu dia jadi murid di SMA Titania dia udah jadi idola. Shaza juga tetap diam jika bertemu dengan cowok itu. Dia masih menganggap bahwa cowok itu ngga punya perasaan. Sok cool. Terkadang kalo Shaza bertemu dengan Alex di kelas dan ketika Alex tersenyum padanya. Shaza acuh dengan hal itu. Satu kata perasaan Shaza sama Alex. Benci!

                                                                        ***

Jam istirahat.

Willy kekelas Shaza untuk mengajak adiknya ke kantin.
            “Shaz,kamu udah makan? “ Tanya Willy.
            “Belum. Lagi nggak nafsu, kak Rico mana ?” belakangan ini Shaza tak melihat Rico bersama Willy. Padahal kemanapun Willy berada pasti selalu ada Rico (kalo di sekolah).
            “Kangen ya sama Rico,” jawab Willy “Dia lagi main basket sama anak-anak. Eh anak baru itu namanya siapa Shaz?”
            “Namanya Alex. Tau ngga dia tuh yang nabrak gue tempo hari lalu. Dia tuh nyebelin. Nggak punya perasaan daaaaaan satu lagi. Sok cool.” Tegas Shaza
            “Huss.. nggak boleh gitu. Nanti bisa suka lho.” Ledek Willy
Willy tahu. Tahu sekali bahwa Alex sangat menyebalkan bagi Shaza. Tapi entah belakangan ini ada sesuatu yang berkata dalam hatinya bahwa Alex bukan secuek yang diceritakan oleh adiknya. Dia melihat bahwa Alex anak-baik-baik. Tapi Willy tidak sepenuhnya percaya itu.
            “kak gue mau masuk kelas dulu ya,bete nih.” Tukas Shaza. Willy mengerti apa yang membuat adiknya seperti itu. itu karena kehadiran Alex yang ada duduk di sebrang mereka.
            “Yaudah,kakak langsung ke lapangan basket ya. Mau ketemu anak-anak.”
            “mau dianter?”
Shaza geleng-geleng kepala.


                                                                        ***

Di kelas. Sepi. Hanya ada bangku-bangku yang terbebas dari tuan mereka. Shaza terduduk. Membuka sebuah komik detektif yang ia gemarinya. Conan.
Pintu kelas terbuka,Shaza tak terpengaruh oleh itu karena ia sedang tenggelam dalam kehidupan komik miliknya.
            “Shaz..” suara itu.
            “Apa?” jawabnya tanpa memperdulikan siapa yang berbicara padanya.
            “Gue Alex. Gue minta maaf soal kejadian tempo lalu.”
Shaza meletakkan komik di atas mejanya. Dan ia tersadar bahwa apa yang dikatakan Alex tadi. “seorang Alex minta maaf?” batinnya.
            “Udah gue maafin” jawabnya singkat.
Alex tersenyum. Shaza melihat itu. Senyum itu. Mata itu. Tulus.
            “Thanks,Shaz. Lo suka komik Conan?”
            “Iya. Kenapa?” singkat.
Beberapa menit tak ada suara yang keluar dari mulut Alex.
            “Gue juga suka. Oiya,dikantin tadi lo sama siapa?”
            “Kakak gue. Willy. Kenapa?” sambil membalik halaman komiknya.
            “Kok nggak mirip?”

Plak.
Tamparan Shaza mendarat mulus di pipi Alex. Alex meringis,bukan karena sakit. Melainkan baru kali ini ia ditampar sama seorang cewek. Mamanya aja nggak pernah. Yah walau nggak sakit tapi kan… (you know lah)
            “Lo kalo ngomong dijaga. Tampang keren,tapi mata? Kasat !”sembur Shaza
            “Gue kan cuma bercanda Shaz. Kok lo nampar gue sih?”
            “Rasain. Masa bodo,mau lo sengaja atau serius bodo amat.”
            “Maaf deh. Sekali lagi. “ Alex mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. “Lo mau ini ?” yup,sebuah Lollipop. Langsung disambar oleh Shaza.
            “Iya gue maafin.”ujar Shaza.
Shaza bergumam dalam hati. Ternyata Alex ,sesosok makhluk di SMA Titania yang dianggap dewa pendiam. Seru juga. Alex yang dianggapnya seorang yang menyebalkan ternyata tidak.
           
                                                                        ***
Rico. Terduduk diam memikirkan hal yang barusan ia lihat. Shaza dan Alex,berdua di kelas. Penuh canda tawa dan ria. Baru kali ini ia melihat senyum Shaza yang ceria,kembali oleh seorang Alex. Senyum yang terakhir ia lihat sebelum tragedy itu terjadi. Setahun yang lalu. Rico merasa Alex bukanlah cowok yang baik. Alex dingin. Berbeda dengannya yang selalu ramah pada semua orang (terkecuali banci). Tapi kenapa Alex bisa membuat Shaza kembali ceria. Willy saja tidak bisa membuat Shaza seceria itu. tapi mengapa Alex bisa?
Cinta. Kata itu yang kini ia benci. Mengapa harus ada cinta dalam kehidupan. Kata yang ia paling takuti. Ia telah kehilangan cinta pertamanya 3 tahun lalu yang sampai saat ini ia tak pernah tahu  bagaimana kabar cinta pertamanya. Seolah cinta itu menghilang. “Kenapa sih gue ini. Gue nggak pernah sebego ini.” Rutuknya pada diri sendiri. Tapi kini Cinta yang membawanya tersadar dalam keterpurukan. Mau sampai kapan ia harus terpuruk. Tapi ketika Cinta itu datang kembali. Ada yang mengekorinya. Hambatan. Hambatan itu adalah Alex,meskipun tidak sepenuhnya karena Shaza dan Alex baru berteman. Tapi entah mengapa ia merasa bahwa Alex lah yang akan menghalangi Cinta yang datang padanya .

                                                                        ***

Aku menyayangi mu lebih darinya.
Aku mencintai mu lebih dari cintanya.
Tapi mengapa kamu tak pernah menganggap ku?
Mengapa kau tak pernah ingin tahu isi hatiku.
Aku berusaha untuk menjaga mu
Aku berusaha untuk selalu ada di sampingmu.
Namun,mengappa kau tak pernah menyadari itu.
Aku hanya ingin kau tahu perasaan ku.
Kau adalah segalanya untukku,Shaza.













Gelombang… pergi… selamanya.

Batu nisan itu terdiam mematungkan nama Isabella Rachwel. Cowok itu menundukkan kepalanya. Mengingat kejadian 6 bulan lalu.

Maaf Alex,aku nggak bisa bertahan lagi. Jaga diri kamu baik-baik ya. I love you,forever.” Suara parau itu,Isabella.
“kamu harus bertahan Bel,aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Kita akan selamanya bersama untuk menjalani kehidupan kelak berdua. Aku mohon kamu harus kuat. Kamu harus bertahan untukku.” Ucapku. (Alex)
Tiba-tiba gelombang tanda kehidupan berjalan cepat. Dan secepat itu gelombang itu menghilang menandakan bahwa Isabella telah pergi. Meninggalkannya,selamanya.
Bergegas dokter datang dan meletakkan setruman jantung untuknya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Gelombang itu tetap saja tak bergerak. Datar . Isabella pergi. Selamanya.
Tangis,ya Alex tak bisa menahan itu. Bukan karena ia cengeng. Namun,gadis yang paling dicintainya pergi untuk selamanya. Gadis yang selalu menemaninya dalam kesendirian kesepian dalam suka maupun duka sekalipun. Ia keluar. Berlari. Melajukan motornya menukik jalan malam. Angin malam masih terus membisikkannya kata-kata itu. kata-kata terakhir yang diucapkan Bella.

“Alex.”
Suara itu mengagetkan Alex yang terduduk diam di depan nisan Isabella. Suara itu adalah suara Shaza. Shaza berdiri dibelakang Alex. Membawakan dua buket bunga mawar putih. “Lagi ngapain.” Tanyanya
Bergegas Alex mengusap air matanya. Berdiri,membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Shaza berdiri. “Hei.” Sapanya “Kamu sendiri lagi apa?” tanyanya. Shaza merasa Alex berbeda. Pelupuk matanya terlihat memerah. Itu menandakan Alex selesai menangis. Namun,ia berusaha menetralkan ekspresinya seolah ia tak tahu.
“Oh gue lagi mau ngunjungin makan bokap-nyokap gue.” Jawabnya
“Emang bokap-nyokap lo kenapa?”
Diam. Hening tak ada suara jawaban dari Shaza,hanya angin yang berlalu lalang.
            “Eh maaf,Shaz.”lanjutnya
Shaza tersenyum simpul “Kenapa minta maaf? Bokap sama nyokap gue udah di surga. Mereka lagi melihat kearah gue dengan senyum tulus dari merea. Gue yakin itu.” Shaza melangkah menuju dua batu nisan
Indiarto Sukmawidjaja
Riana shavira
Shaza meletakkan dua buket mawar putih itu di kedua nisan itu. memejamkan mata dan berdoa. Dalam hati. Menuntut yang terbaik untuk kedua orangtuanya pada Tuhan. Lalu kembali membuka matanya.
Alex melihat senyum Shaza. Ia mengerti di senyum manisnya terdapat hati terluka yang masih belum bisa terobati untuk jangka waktu ini. Ia menggenggam jari-jari putih Shaza dan berkata “Mau pulang? Gue anter ya Shaz. Kan lo nggak pergi sama abang lo. “ ajak Alex

Shaza mengangguk.
            Sore itu Alex merasa ada sesuatu dalam hatinya. Sesuatu yang dulu ia rasakan. Jatuh Cinta. Ia tertarik dengan gadis imut disampingnya. Ia tertarik dengan senyum tulus gadis itu. namun ia tetap tak bisa melupakan Isabella. Cinta pertamanya yang kini pergi dengan semua kenangan indah bersamanya. Dan sulit bagi Alex untuk melupakan Isabella,meskipun ia yakin ia tak bisa menyentuh Isabella seperti dahulu. Dan sulit baginya untuk merelakan Isabella. Pergi.

Perubahan-Perubahan itu…

Ketika kamu merasa dia yang paling pantas untukmu.
Percayalah, perubahan-perubahan itu pasti ada.
Ketika kamu merasa ia tak pantas untukmu.
Sadarlah bahwa dia yang selalu melindungimu.

Sudah satu semester Alex menjadi murid tetap di SMA Titania. Sudah satu semester pula Shaza mengenal Alex. Namun,kini Alex berubah. Alex menjadi dingin. Seperti tak kenal dengan Shaza. Setiap kali Shaza ingin mengajaknya ke kantin,Alex diam. Tak pernah menjawab dan berlalu pergi seolah Shaza kasat mata. Sewaktu Shaza menawarkan minum pada Alex. Alex  mengacuhkannya. Seolah Shaza hanya bayangan.
Shaza tak mengerti mengapa Alex berubah. Shaza merasa ia tak pernah melakukan kesalahan. Shaza hanya mencoba bijaksana dengan caranya sendiri. Baginya kini Alex bukanlah Alex yang dulu. Yang selalu tersenyum melihat Shaza. Selalu menawarkan jajanan atau sekedar minuman sehabis olahraga. Alex kini hanya bayangan yang tak dapat lagi disentuh. Dirasa,bahkan diajak bicara. Alex hanya bayangan yang dulu pernah bersamanya. Shaza mengira bahwa Alex adalah cowok terbaik di dunia ini. Ternyata tidak. Tidak sama sekali.
“Shaz,kok bengong.”Tanya Rico yang sedari tadi memperhatikan Shaza.
“Hmm,Ric gue mau Tanya sesuatu deh. Boleh?”ujar Shaza
“Boleh Tanya aja.”
Diam sesaat Shaza hanya memandang jus jambu di depannya sambil mengaduk jus itu yang sedari tadi tak dimunumnya.
            “Rico,Cinta itu ngga pernah tetap ya? Apa salah kalo kita merasa dia cocok bagi kita? Dan kenapa perasaan itu bisa berubah-ubah ya?”
Rico tersenyum,baru kali ini Shaza bertanya tentang cinta padanya biasanya dia paling ngga suka kalo ngomongin cinta. Atau paling dia suka curhat ke Willy.
            “Tumben nanya kayak gitu,lagi jatuh cinta yaa?”
            “ish seriussan .”
            “Cinta. Sebuah kata yang dimana kita nggak pernah tau akhirnya. Yang kita harap cinta kita itu abadi sama seseorang yang kita cintai. Nggak ada yang salah jika setiap orang jatuh cinta,apalagi berusaha untuk mendapatkan cinta itu. Memang setiap perasaan itu bisa berubah. Misalnya dulu lo selalu marahin gue karena gue nyebelin. Ternyata sekarang lo malah cinta sama gue.” Rico memandang Shaza tak sengaja ia melihat pipi Shaza memerah dan ada sedikit ekspresi kaget yang ia pancarkan. Namun,langsung ia tepis. “Kok mesti lo dan gue sih ?”sahutnya.
            ‘Kan Cuma perumpamaan,kali aja bener.” Ujarnya sambil menjulurkan lidah
            “udah ah bercandanya gue lagi serius nih. Nggak liat!”
Willy datang sambil membawa 1 gelas milkshake dan menghampiri mereka berdua,”Hei,Shaza maaf tadi kakak nggak bisa nemenin kamu soalnya ada rapat Osis mendadak,” sapanya “Nih,buat kamu.”sambil menyodorkan segelas milkshake yang dibawa Willy.
            “Nggak usah kak,aku udah kenyang.” Tolak Shaza “Kak aku mau kekelas ya,bye.” Lanjutnya
Willy menggangguk dan mengatakan “Shaz,nanti istirahat kedua kakak ngga bisa nemenin kamu istirahat soalnya ada pengarahan dari pelatih basket buat pertandingan besok.”
            “Oh iya gapapa kak Willy.”
Shaza berlalu pergi. Punggungnya sudah tak terlihat lagi,seolah tertelan kerumunan anak-anak di kantin. Willy membuka pembicaraan “Ric,adek gue lo apain? Kok mukanya kusut.”
            “Nggak gue apa-apain,tadi dia Cuma nanya tentang cinta ke gue.” Jawab Rico dengan datar.
Willy hampir tersedak mendengar pernyataan Rico “Se..rius lo?” tanyanya “Jadi Shaza udah ngebuka hati? Sama siapa? Pastinya bukan sama lo kan?”
            “Sialan lo,nggak tau deh Tanya aja sama Shazanya sendiri,biasanya dia cerita duluan ke elo.”
            “Hmm,iyadeh ntar coba gue Tanya ke Shaza. “

Andai Will,adeklo bisa ngasih sedikit hatinya ke gue. Andai ! batin Rico.

Di kelas. Terdapat pandangan yang tak menyenangkan bagi Shaza. Alex berdua dengan Siska,anak kelas 12 IPS 3,Siska dengan tubuh nya yang bisa dibilang perfect sama semua orang dan tampang cantik membuatnya menjadi siswa Eksis di SMA Titania. Dia juga dikenal nggak segan-segan ngehabisin adek kelas yang bisa dibilang  ‘nyolot’. Beberapa hari yang lalu aja Dewi,anak kelas 10 IPS 2 ketauan make parfum di depan Regazin (gengnya Siska) langsung di labrak dan rambut Dewi di gunting setengah sama Siska. Akibatnya Dewi ngga masuk 3 hari,itu juga dia masuk gara-gara dianterin nyokapnya. Bukannya para orang tua takut buat ngelabrak balik. Emang geng Regazin ngga bisa dibilangin sama sekali.
 “Ups lagi ada yang pacaran? Frontal banget pacaran di kelas,sekalian aja di tengah lapangan biar diliatin.” Sindir Shaza.
“Eh lo diem aja deh,nyari masalah sama gue lo?” bentak Siska
Dengan nekad Shaza menghampiri Siska “Aduh kakak,ampun. Hahaha,emang lo kira gue takut sama cewek nenek lampir kayak lo.”  Bentak Shaza yang tak mau kalah saing.
Alex,sosok yang tadinya duduk di banku dan berdiam diri kini bangkit.
 “Keluar.” Ajaknya sambil memegang lengan Siska.
            “Bawa keluar tuh cewek lo yang sok itu!”
Siska melihat Shaza dengan sinis “Awas lo urusan kita belum selesai.”
Kini kedua sosok yang membuatnya membara telah pergi. Namun ada sedikit gejolak hati yang Shaza rasa ketika Alex memegang lengan Siska. Cemburu kah ia ? Shaza kembali ke tempat duduknya. Membuka komik yang belum selesai ia baca.
                                                                        ***
Sepulang sekolah.

Shaza sedang berbincang-bincang dengan Zizi,Ratih dan Nur. Tiba Alex menarik tangan Shaza dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sepontan Zizi,Ratih, dan Nur terbelalak melihatnya.
 Shaza meronta-ronta agar Alex melepaskan genggamannya dari lengan Alex. Sampai akhirnya aled membuka suara dan membuka pintu mobil jeepnya,’Masuk” suruhnya.
Jeep itu meluncur kea rah yang tidak diketahui oleh Shaza. Diam. Hanya suasana itu yang kini ada dalam Jeep milik Alex. Akhirnya mobil itu berhenti di suatu tempa. Yang tak pernah diketahui Shaza. Hp Shaza bergetar,Willy meneponnya. Sebelum Shaza ingin mengangakat telpon dengan sigap Alex merebut hp miliknya dan mematikan hp itu.
            “Apa-apaan sih lo. Mau lo apa? Narik tangan gue sampe merah. Diemin gue. Sekarang dengan enaknya lo matiin hp gue. Itu telpon dari kak Willy.” Bentak Shaza.
Alex diam. Berbalik kekiri kearah Shaza dan berkata “Lihat ke depan dan jangan berisik.” Sahut Alex.
Shaza baru tersadar bahwa di depannya kini ada pemandangan indah yang jarang ia lihat di gemerlapnya Jakarta “Sunset”.
            “Lo tau nggak,kenapa lo nggak bisa liat Sunset kayak gini di Jakarta? Itu karena udah duluan tenggelam sama gedung-gedung pencakar langit.”
Shaza menengok,melihat Alex dan tak sengaja menangkap senyum yang tulus dari bibir Alex.
            “Kenapa sih lo tadi nekad buat berurusan sama Siska. Lo nggak takut?” Tanya Alex
Shaza tersenyum sinis
 “Ngapain takut sama orang kayak dia. Nggak guna. Eksis tapi sadis.”
            “Kalau besok lo dilabrak sama dia gimana? Minta tolong sama Willy?”
            “Labrak aja gue nggak salah kok. Ngapain minta tolong sama kak Willy nggak ada urusannya sama dia. Gue nggak pernah takut sama Siska. Apalagi penjajah macem dia. Udah ah balikin hp gue,gue mau nelpon kak Willy.”perintah Shaza
            Alex menatap kedua bola mata Shaza melihat binar-binar kesungguhan yang diucapkan Shaza barusan. Ia melihat terdapat penuh keberanian untuk menghadapi Siska. Perlahan bibir Alex menyentuh pipi Shaza. Shaza terlonjak kaget dan menjatuhkan handphone yang ia pegang.

Plakk.

Tamparan itu cukup membuat pipi kanan Alex memerah.





Kenyataan-Kenyataan itu….
 Jauh dari kenyataan itu bahwa ia tak mencintai mu.
Ia lebih memilih orang lain yang baginya lebih baik.
Ia hanya mengganggapmu sebuah ilusi.
Bayangan yang seakan tak pernah hadir dalam hidupnya.

            Shaza termenung diam dalam duduknya. Sedari tadi ia lebih memilih menyendiri memandang bintang-bintang yang sedikit bermunculan karena tertutup awan tebal. Ia masih teringat ketika Alex mencium pipinya. Sedikit ia berharap bahwa Alex benar-benar mencintainya. Namun kenyataannya kini berubah. Jauh sebelum itu Alex lebih memilih Siska yang semakin lekat di pelukannya. Shaza kira Alex suka bahkan sayang padanya. Namun,tidak. Tetesan air mata itu mewakilinya kepada para bintang yang bertanya “Mengapa kamu bersedih?”. Tetesan air mata itu mengartikan penyesalan. Penyesalan mencintai orang yang salah. Orang yang berengsek. Shaza menyesal telah mengatakan kepada Alex atas semua perasaannya. Handphone Shaza bergetar. Ada sms masuk. Dari….. Rico.

From : Rico

Kalau mau nangis mending dipelukan gue aja,kenapa nggak bilang daritadi? Kan gue bisa nemenin lo. Lihat kebelakang deh.

Rico telah berdiri di belakang  Shaza,entah sejak kapan Rico ada disana. Rico segera menghampiri Shaza yang sudah sedari tadi duduk siam di atap  rumah.
 “Kali ini tanpa bilang ‘permisi’ boleh kan? Lo keliatan sedih banget.” Ujarnya.
            “Sejak kapan lo naik ke atap?” Tanya Shaza
            “Sejak lo memandang bintang dan menangis di hadapan para bintang. Dan kalo lo pengen gue pergi sekarang gue bisa pergi kok.”
“Ric.” Sahut shaza “Sini aja temenin gue,”sambungnya.
Kini Rico tersenyum,melihat Shaza berada di sampingnya membutuhkannya. Sebenarnya Rico ingin sekali memeluknya,ingin sekali bertanya mengapa ia menjadi seperti ini. Tapi,tanpa bertanya pun Rico sudah tau jawabannya,itu pasti karena Alex.

                                                                        ***

Mengapa kau tak pernah menyadari bahwa diam-diam aku mencintaimu. Menyayangimu lebih dari apapun. Tapi kenyataannya aku tak bisa. Tak bisa terus menyakiti hatimu karena semakin aku mencintaimu semakin kau harus kusakiti. Sejak pertama kita berjumpa. Sejak pertama kita bertatap mata. Sejak saat itu aku ingin mengenalmu lebih dari teman baru. Aku selalu memikirkannmu. Tapi kenyataan kini aku tak bisa. Aku harus jauh. Pergi jauh darimu. You only my beautiful mistake.

                                         ***









Tahun yang Baru…

Berpacunya waktu telah mengakhiri masa SMA Willy. Kini ia telah masuk ke jenjang yang lebih tinggi. Willy beruntung tak perlu repot-repot mencari universitas. Karena namanya sudah terdaftar di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Berkat perghargaan-penghargaan yang ia raih dari masa sd hingga SMA yang Akademik maupun Non-Akademik. Berbeda dengan Shaza yang hanya mahir di bidang sastra. Willy bangga dengan adiknya. Adiknya sedari dulu telah memenangkan berbagai perlombaan sastra. Willy sangat bangga dengan Shaza.

                                                                        ***

Jika nanti aku diperbolehkan bertemu dengan Tuhan
Aku ingin mereka selalu bersamaku sampai ku menutup mata.
Jika Tuhan ingin mencabut nyawa.
Aku ingin Tuhan mencabut nyawaku terlebih dulu.
Aku tak ingin mereka pergi meninggalkanku.

Namun, goresan takdir telah tergambar.
Sudah saatnya mereka pergi.
Sudah saatnya mereka menjadi bintang abadi di langit.
Bintang yang selalu menemani malam ku

Jika aku boleh meminta,
Aku ingin terbang,
Aku ingin mengambil kembali kedua bintang itu.
Tapi itu mustahil.

Mungkin memang dengan cara itu Tuhan menjawab
Dengan cara itu Tuhan ingin mengajarkan kuat
Saat malam mengelilingi ku.
Tuhan,adakah waktu untuk menjawab doaku? –Shaza-

Puisi itu menginggatkan Shaza tentang kejadian 2 tahun yang lalu. Sebelum kedua orangtuanya meninggal. Puisi itu ia persembahkan untuk kedua orang tuanya dan Willy. Puisi itu dimenangkannya dalam perlombaan antar kelas. Sederhana memang. Namun menyentuh. Shaza menoleh,terlihat bingkai kayu yang menjaga sebuah foto kenangan. Papanya yang menggendongnya di sebuah taman bermain,di sampingnya Wily yang tersenyum lebar memegang balon dan dirangkul oleh mamanya. Foto itu diambil saat Shaza berusia 5 tahun dan Willy7 tahun.
            Shaz..
Terdengar suara dari balik pintu kamarnya. “Kamu mau ikut Kakak nggak,kakak mau cari buku nih buat materi minggu depan.”
            “Iya kak,aku ganti baju dulu.” Jawab Shaza.


                                                                        ***
‘Apa maksud lo? Kenapa lo nyakitin Shaza? Apa lo ngga tau perbuatan lo itu ngga bisa dimaafin.” Tangan Rico mengepal,matanya memancarkan emosi yang sangat dalam. Alex yang berdiri tak jauh darinya menoleh,melihat Rico. Alex menghampiri Rico,tersenyum simpul.
            “Karena gue mencintainya,dan gue nggak ingin ngelukai hatinya. Semakin gue mencintainya. Semakin harus gue melepasnya.” Pernyataan Alex.
Kepalan tangan rico mendarat halus di pelipis kanan Alex. Pertarungan itu pun terjadi. Keduanya sama-sama dibalut emosi dan rumitnya cinta. Orang-orang sekitar hanya melihat mereka tak berani untuk memisahkan kedua manusia itu. mereka juga takut terkena tonjok. Shaza yang melihat dari balik kaca mobil,seketika meminta Willy untuk menghentikan mobil “Berhenti kak. Alex dan Rico sedang berkelahi.”
            BERHENTI !!
“Apa kalian nggak malu diliati banyak orang ?” suara shaza tetap tak bisa memadamkan. Sampai akhirnya.
            Dug.
Tonjokan keras mengenai Alex mengenai pelipis kiri Shaza.  Saat itu pula mereka berdua berhenti,Willy berlari menghampiri Shaza yang terluka.
 “Lo apain adek gue?” bentaknya, “Inget. Gue ngga akan pernah maafin lo sampe terjadi apa-apa sama adek gue!” bentak Willy
            Willy mengganggkat tubuh Shaza dan berlari ke mobilnya. “Ric,buka pintu. Lo masuk jagain adek gue. Biar gue yang nyetir!” perintahnya.
Orang-orang yang melihat hal itu hanya bisa merutuki Alex malah ada ibu-ibu yang bilang
 “Dasar bocah kerjaannya berantem mulu.” Alex bergegas menaiki motornya dan melaju entah kemana.
Shaza terbaring lemah di rumah sakit.
“Ngapain sih lu pake berantem segala sama bocah. Shaza kan yang kena!” amuk Willy pada Rico.
“Gue Cuma mau nyelesain masalah Will.” Jawab Rico sambil mengelus-elus rahangnya yang lebam.
“Gue ngga habis fikir. Otak lo sesempit itu,dari kapan sih lo main hakim sendiri? Inget,masalah ngga mungkin lepas dari hidup lo kalo cara lo melepasnya dengan emosi. Malah tambah besar masalah lo .”
“Gue Cuma ngga mau Alex nyakitin Shaza terus Will,gue sayang sama adek lo lebih dari apapun itu.”
            Willy terdiam. Ia tak menyangka bahwa sahabat kecilnya mencintai adiknya.
“Sejak kapan lo mencintai adek gue?”. Pernyataan itu membuat Rico terdiam tak bersuara. Kini Willy telah mengetahuinya. Akhirnya Rico membuka suara
“Sejak kita berteman.” Willy tersenyum,”Kalo gitu,mulai sekarang gue titip adek gue jangan sampe buat dia nangis.” Rico tersenyum,ia telah lega mengucapkan sesuatu yang ia pendam selama 14 tahun.
            “Oiya,lusa ada party kan mau tahun baru. Lo ikut ?” Tanya Willy  “kalo adek lo ikut,gue ikut.” Jawab Rico.
                                                                       




***

Malam ini Shaza terlihat sangat cantik dibalut gaun selutut  berwarna pink. Sangat cocok. Semua mata terpesona padanya. Willy yang berdiri disampingnya pun tak jauh tampan. Pesta ini diadakan untuk menyambut tahun baru.
”Hei Will,adek lo cantik banget.” Ujar Tania
            “Makasih kak Tania.” Sahut Shaza.
            “ enjoy the party ya” Tania berbalik dan mengambilkan 2 gelas minuman untuk Willy dan Shaza.
            Rico menghampiri Shaza yang berdiri di samping kolam. “Shaz,lo cantik hari ini.”
Shaza menoleh dan tersenyum “thanks,Ric. Lo juga tampan hari ini.”
            Mereka berdua berbincang-bincang. Tak perduli jika sudah pukul 00.00 mereka baru tersadar ketika bunyi kembang api dan terompet. Rico memeluk Shaza dan mengucapkan
“Happy New Year 2013 Shaz,may all your wish come true.” Lalu Rico mencium kening Shaza dibawah senyum para bintang.
            Di sebrang kolam,ada yang memperhatikan mereka. Ada yang cemburu. Ada yang sakit hati. Namun,ia tak ingin egois. Ia tak ingin orang yang ia ciantai jatuh ke cinta yang salah. Ia yakin Rico lah yang terbaik bagi Shaza.
            Kini ia sudah tak dibutuhkan lagi oleh Shaza. Kini ia harus berusaha membuang perasaannya pada Shaza.
            Andai yang lo peluk itu adalah gue Shaz. Gue pasti bahagia banget. Batinnya
                                                                        ***

            “Shaz,gue mau jujur ke elo.” Ujar Rico
            “Apa Ric.”
            “Gue sayang sama lo. Dari awal kita berteman dulu. Tapi gue nggak berani mengatakan ini. Sampai saat ini. Yang bagi gue ini adalah waktu yang tepat. Lo mau jadi cewek gue?”
            Shaza terkejut mendengarnya.
            “Maaf Ric,untuk saat ini gue ga bisa. Gue emang sayang sama lo,tapi sayang bukan karena cinta. Melainkan sayang seorang adik ke kakak. Maaf  Ric.”
            Shaza menjauhkan diri dari Rico. Ia berlari ke arah parkiran. Kini perasaan  Shaza tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Ia masih shock atas apa yang ia dengar tadi. Shaza tak menyangka akan hal itu.
            Dan Rico,menyesali atas apa yang ia perbuat tadi. Ia merasa bersalah. Ia takut,esok Shaza akan benci padanya.




Kau.

Kau..
Bagai Lembayung (yang terkadang terlihat sempurna)
Namun,kau mudah menghilang
Tertutup gelapnya malam

Terkadang,kau bagai kabut
Sesaat aku dapat melihat mu dan dengan cepat kau berlalu
Kau tak pernah bisa kumiliki
Karena kau hanya setitik embun air hujan tak dapat disentuh

Tapi,
Kau mampu menarik hatiku.
Mampu menghipnotisku
Hingga aku terjebak
Dalam lubang harapan

                                                                        ***
Hanya aku,hanya aku,dan hanya aku yang selalu menginginkan mu. Mengharapkan mu datang padaku. Aku mencoba untuk menjadi yang terbaik bagimu. Aku selalu mencoba membuatmu tersenyum. Tapi mengapa kau tak pernah bisa mengganggapku? Kau selalu acuh. Aku mencintaimu lebih dari dia mencintaimu. Aku lebih mengetahuimu dibanding dirinya. Hanya aku yang pantas bagimu. Tapi mengapa kau tak pernah memberiku kesempatan untuk menempati hati mu?
                                               
                                                                        ***
Shaza!
            Suara Bu Yanti  membuyarkan lamunan Shaza.
            “Kenapa kamu melamun di jam pelajaran saya?”bentaknya “Kalau kamu sudah tak menyukai pelajaran saya,pergi dari kelas dan jangan masuk sebelum jam pelajaran saya selesai.” Lanjutnya
            Shaza berdiri dan keluar kelas tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Teringat kata-kata Alex semalam. Alex akan pergi meninggalkannya. Ia berencana untuk pergi ke London dan menetap disana. Shaza terisak dalam duka. Entah mengapa perasaannya begitu hancur. Padahal,selama ini ia tak pernah perduli dengan Alex semenjak kejadian itu. Shaza tahu,di setiap pertemuan,selalu ada perpisahan. Jika dulu Shaza bersiap untuk bertemu Alex,kini ia harus lebih bersiap untuk berpisah dengan Alex.
            Kenapa lo harus pergi lex? batinnya.

                                                                                    ***
Shaza tak mengubris pesan di handphonenya. Kini ia merasa hancur. Ia tak ingin Alex pergi darinya. Namun,itu tak mungkin.

Bandara Soekarno-Hatta
            Pukul 11.55. Lima  menit lagi pesawat Alex akan meninggalkan Shaza. Alex masih terduduk di kursi penununggu. Ia menanti. Menanti seseorang,bukan Siska pastinya. Ia telah memberhentikan hubungan dengan Siska sebulan yang lalu. Matanya terus menunggu. Menunggu cewek itu. Shaza.
            Sepertinya sudah tak akan mungkin menunggu Shaza. Kini ia berdiri penuh penyesalan dan membawa kopernya sendiri,meninggalkan tempat duduknya dan berjalan menuju pintu gerbang pemberangkatan.

           
Lembaran baru Shaza.
Ting.. tong..
Shaza segera membukakan pintu rumahnya. Tak disangka,orang yang paling ia tunggu telah kembali,Shaza tersenyum melebar “Hei Vin,apa kabar” Shaza langsung memeluk tubuh Kevin sambil berjinjit karena Kevin lebih tinggi darinya.
            “Hei kak Willy gak ada dirumah. Kamu kok nggak kasih kabar ke aku kalo mau ke Indonesia? Aku kangen banget sama kamu.”
Kevin tersenyum melihat gadis kecilnya dulu,kini sudah dewasa. “Kabar gue baik. Haha,kan gue mau kasih surprise buat gadis kecil gue. Gue lebih banget kangen sama lo. Apalagi udah 5 tahun lo nggak kasih kabar ke gue,Shaz” jawabnya
            “Malah kamu yang nggak kasih kabar ke aku. Baru aja aku berharap kamu datang kesini. Tapi,itu nggak mungkin banget.”
            “Dan sekarang itu, menjadi mungkin. Gue ada di samping lo lagi. Dan gue akan menetap di Indo.” Sambung Kevin
            “Mau minum apa?”Tanya Shaza
            “Air putih aja.”
Kevin melihat mata Shaza yang sembab. “Lo kenapa,Shaz? Habis diputusin?” sahut Kevin
Shaza hanya tersenyum dan segera berjalan kedapur.
            “Nih diminum airnya.”
            “Thanks”
Shaza sangat senang sekali melihat Kevin datang. Kevin adalah teman Willy. Mereka bertemu saat Willy di les kan piano oleh mamanya. Willy tak menyukai music. Berbeda dengan Shaza. Willy dan Kevin sering bermain bersama. Rico juga mengenal Kevin. Mereka selalu bersama-sama Shaza pun sangat dekat dengan Kevin dibandingkan Rico ,sampai saat itu. Kevin harus pergi meninggalkan Indonesia,. Ia harus pergi ke Jerman untuk melanjutkan sekolah music disana. Ia sangat mahir memainkan alat music. Itulah yang membuat Shaza jatuh hati padanya. Namun,karena Kevin tak pernah mengirimkan kabar kepadanya. Ia berusaha menantinya. Hingga saat ini. Perbedaan umur mereka hanya 2 tahun. Kevin lebih tua dari Shaza. Ia memiliki bola mata yang coklat. Tingginya sekitar 180cm. Ia memakai kacamata yang bagi Shaza,kacamata itu membuat Kevin lebih Istimewa. Kevin berbeda dengan pria lain. di mata Shaza,Kevin sangat Intimewa. Dalam lubuk hati Shaza yang paling dalam. Shaza berharap,Kevin bisa membantunya untuk melupakan Alex. Untuk selamanya.
            Tiba-tiba Kevin menatap serius ke kedua mata Shaza.
 “Shaz,gue janji. Gabakal ninggalin lo lagi untuk selamanya. Dan gue janji. Gue akan selalu ada untuk lo.”Kevin memeluk tubuh Shaza dan mengelus punggung Shaza.
            Dalam dekapannya,Shaza mengganguk. Dan tersenyum. Semoga Kevin bisa menepati janjinya.
                                                                                    ***
Willy masuk ke dalam rumah ditemani Rico. Matanya terbelalak melihat Kevin dan Shaza.
            “Vin. Lo udah balik?” Willy langsung menghampiri Kevin “Kok lo nggak bilang-bilang sih? Kan gue bisa nyiapin kamar buat lo. Lo kesini sama bokap atau nyokap lo?”
            “Perasaan pada kangen sama gue ya,kok sampe excited banget ngeliat gue. Haha,gue ke indo sendiri. Gue berencana kuliah di sini. Jadi gue boleh tinggal dirumah lo kan?”
            “Boleh aja lagi,bentar ya gue suruh bi Inah nyiapin kamar buat lo.”
            “Bokap sama nyokap lo kemana Will?” Tanya Kevin.

Willy menarik nafas

“bokap nyokap gue udah ngga ada Vin. Mereka meninggal setahun yang lalu.”
            “Sorry Will. Gue turut berduka cita ya.” Sambil menepuk pundak Willy. Kevin melihat Rico yang berdiam diri di depan pintu. “Ric,apa kabar?” tanyanya
            “Baik. Will gue balik.” Singkat. Entah mengapa Rico tak senang melihat Kevin. Namun, Kevin mengira ia sedang kelelahan.
            “Eh mau kemana lo,buru-buru amat. Kevin kan baru dateng. Udah mau balik aja.”
Rico berlalu pergi. Shaza tak acuh. Ia pergi ke lantai atas untuk membantu bi Inah membereskan kamar tamu untuk Kevin.
            Willy dan Kevin berbincang bincang pengalaman masing-masing. Shaza pun turut bersamanya setelah selesai membereskan kamar tamu.

First kiss for Shaza.

Sudah sebulan ini Kevin tinggal bersama mereka. Kevin satu kampus dengan Willy. Hanya saja,mereka beda fakultas. Willy di fakultas perekonomian,sedangkan Kevin di fakultas kesenian. Kini Shaza duduk di kelas 11 IPA1.

            “Shaz,selasa besok lo mau ikut kerumah Winda nggak? Katanya dia bikin acara syukuran rumah barunya.”
            “Engga Zi,gue ada acara sama kakak gue dan temennya. Lo?”
            “Ya kalo lo ikut. Gue ikut. Tapi kalo lo nggak ikut gue juga gak ikut.”
            “Yah jangan gitu dong Zi,lo ikut aja. Sorry banget Zi. Gue ga bisa”
            “em,gimana ya. Yaudah deh gue ikut.”
            “Nah gitu dong Zi. Jangan mentang-mentang nggak ada gue,lo gaikut.”
            “Haha iya dehh.”

                                                                        ***

Handphone Alex berdering. Ia kira Shaza yang menelponnya. Ternyata tidak.

“Hi Lex,how are you.” Suara penelfon itu.
“Fine. Lo sendiri apa kabar?”
“Fine,too. Lex,gue udah ketemu sama gadis kecil gue.”
“Oh ya,seneng dong lo. Oiya,salam buat bokap sama nyokap lo.”
“Iyalah,gue seneng banget. Apalagi gue tinggal serumah sama dia. Iya sip.”
Alex yang sedang minum air tersedak ‘What? Demi apa lo? Lo udah apain dia? Kan lo baru aja ke Indonesia.”
            “Hahaha,enggalah ga gue apa-apain. Dia itu adeknya temen gue. Orantuanya baru aja meninggal jadi gue disuruh tinggal dirumah mereka. Lagian gue satu universtas sama kakaknya.” Jelas penelfon itu.
            “Oh,jadi gitu.”
            “Iya,eh udah dulu ya,gue lagi dijalan nih. Bawa mobil takut kenapa-napa. Bye my bro”
Belum sempat Alex menanyakan siapa gadis kecil sepupunya itu. telepon di sebrang sana sudah dimatikan.
            “Sialan,emang nih orang.”

                                                                        ***

Sore itu hujan turun dengan rintikan yang berulang kali menetuk atap rumah Shaza. Ia duduk merapatkan kedua kakinya ke dadanya. Memperhatika rintikan hujan yang turun.
            Shaza mendengar suara gitar. Shaza penasaran,siapa yang memainkannya. Padahal dirumah hanya ada dia dan Bi Inah. Terasa tak mungkin jika Bi Inah yang memainkannya. Shaza langsung menghampiri suara gitar itu. Dan ternyata pemain gitar itu adalah….. Kevin.
            “Kevin. Ternyata kamu yang mainin gitarnya.” Shaza duduk di sebelah Kevin yang sedang tersenyum padanya.
            “Iya,hari ini gue lagi gaada jadwal kuliah. Makanya gue pulang.” Ujarnya “Gue ganggu elo ya,Shaz?”
            “Engga kok. Aku suka banget sama lagu yang kamu bawain.”
            “Pachebel Canon in D” dengan sepontan,mereka berdua bersamaan dan saling bertatapan.
Kevin menatap bola mata Shaza dengan focus. Perlahan tapi pasti, wajah Kevin mendekat. Kevin bisa melihat dengan jelas bibir merah Shaza yang tipis. Kini,bibir mereka berdekatan. Malah sangat dekat. Dengan lembut,bibir Kevin menyentuh bibir Shaza.  

                                                                        ***

Kejadian tadi sore membuat Shaza berfikir Kevinkah yang terbaik untukknya. Kevin sangat istimewa. Kevin mahir dalam bidang apa saja. Biarpun teman-teman Shaza menilai Kevin sebagai ‘Cowok Culun’ tetapi tidak bagi Shaza. Kevin adalah cowok yang sempurna. Ia jago bermain music. Ia mahir dalam bidang olahraga. Dan ia pun pintar dalam hal akademik. Kevin berbeda. Dibalik bingkai kacamata nya,tersembunyi sesosok cowok yang sangat sempurna baginya.

***

            Makan malam hari ini terasa nikmat bagi Shaza,tak biasanya ia melahap semua makanan yang ada di meja makan.
            “Heh,tumben makannya banyak. Tadi abis jadi tukang kuli dimana?” ledek Willy
            “Apaan sih kak. Emangnya ga boleh dihabisin?”
            “Bukan gituuu. Kan kamu nggak biasanya makan banyak Shaza.”
Shaza tak acuh,ia tetap makan.
            “Kevin kemana?” Tanya  Willy
            “Ke toko alat music. Katanya mau benerin senar  gitarnya.”
            “Kok kamu nggak diajak?”
Mendengar pernyataan Willy,pipi Shaza memerah. Willy yang duduk di depannya tertawa.
            “Hahaha,ciee pipi Shaza merah. Jangan-jangan Shaza suka sama Kevin ya? Hayo ngaku.”
            “Ih apa sih,engga juga.” Jawabnya tegang
            “Nah itu. kalo engga,kenapa pipinya merah. Udah gitu,salting pula.”
Shaza langsung melemparkan tomat kea rah Willy. Dan terjadilah perang sayuran lalapan. Bi Inah yang kaget melihat mereka,langsung menghampiri mereka berdua “Hehh,sudah-sudah. Jangan berantem. Jangan lempar-lemparan lalapan. Kalo mau berantem di lapangan aja.” Sahut bi Inah yang mulai kesal
            Akhirnya pertarungan itu berhenti setelah terdengar bunyi ketukan pintu.

            “Eh elo Ric,ada apa? Tumben dateng malem. “ Tanya Willy
            “Gue Cuma mau titip ini buat Shaza.” Jawab Rico yang sembari memberikan bungkusan berwarna pink.
            “Oh oke,gamau masuk dulu?”
            “Engga,gue langsung balik aja,lagian udah malem. Shaza udah tidur kan?”
“Ngga tau deh tadi sih dia langsung kekamar.”
“gue balik ya.”pamitnya
Tak berapa lama setelah Rico keluar,mobil Kevin masuk.
                                                                       
                                                                                       ***
 
                                                            The End of Story,Ric


Di dalam kamar. Willy tak bisa berkonsentrasi membaca buku sejarah yang ada di depan matanya. Ia masih bingung dengan sikap Rico pada Kein. Semenjak Kevin datang. Rico tak pernah menginjakkan kaki ke rumah ini. Kalopun Rico ke sini,itupun hanya lima menit saja. Seolah Kevin adalah orang yang paling dibencinya. Willy tersadar,Rico begitu semenjak ia dan Rico melihat Kevin dan Shaza berpelukan. Bagi Willy,pelukan mereka berdua terlihat biasa,hanya sekedar pelukan kangen saja. Tapi tidak bagi Rico. Yang dulu pernah bilang pada Willy bahwa ia mencintai adiknya. Lebih dari apapun.           
           
***

 

Untuk yang kedua kalinya. Rico merasa sakit hati melihat Shaza bersama cowok lain. memang ia tak berhak melarang Shaza dekat dengan siapapun. Tapi kali ini beda. Shaza terlihat mencintai Kevin. Atas kepergian Alex Rico sempat bahagia. Namun,sejak Kevin hadir. Ia merasa bahwa Kevinlah yang akan merebut Shaza darinya. Dan Rico tak menginginkan itu. Tapi ia tak tahu harus berbuat apalagi untuk mengambil hati Shaza. Ia teringat kata-kata Shaza waktu itu.
            “Maaf Ric,gue sayang sama lo bukan karna cinta. Tapi,sayang seperti adik ke kakaknya.”
           
                                                                        ***

Sore itu ketika deras hujan membasahi jalanan ibu kota,sebuah motor ninja melaju kencang. Rico sudah tak bisa lagi menahan amarahnya,kekesalannya. Tanpa di duga sebuah truk yang berlawanan arah melaju kencang.
Tabrakan itu terjadi.
Dan Rico….. kini telah pergi, dengan cinta yang tak pernah terbalaskan.

Kabut gelap menyelimuti kota Bandung. Sore itu pemakaman Rico terlihat mencekam. Shaza merasa bersalah atas segala yang terjadi. Shaza menanggap dialah penyebab kematian Rico. Tak seharusnya Shaza egois dengan perasaannya. Tak seharusnya Shaza munafik dengan perasaan yang dipendamnya.
Shaza mencintai pribadi Rico. Shaza sangat mencintai sosok Rico yang selama iniselalu ada di sampingnya. Namun, sekarang, Rico telah pergi. Pergi jauh. Menjadi bintang abadi bersama orang-orang yang ia sayangi.
Ric, selama ini gue mendam perasaan yang sama kayak lo. Tapi gue ngga berani nerima cinta lo karna gue takut lo bakal pergi ninggalin gue. Batinnya.

                                                            ***
Shaza terpaku di bawah malam. Namun kini, tak ada lagi sosok bintang nyata yang menemaninya di setiap malam. Tak ada lagi yang membubuhkan ide karya tulisnya. Rico, sosok yang selalu menemaninya dengan sabar. Membagi ide untuk karya tulisnya.
Bukankah munafik namanya jika perasaan yang sudah lama terpendam namun saat perasaan itu sudah terbalaskan, dia malah membuang jauh-jauh perasaan itu. Shaza sangat menyesal. Menyesal.
“Shaz..” suara itu membuyarkan lamunan Shaza.
Sosok lelaki yang dikenalnya, kini duduk disampingnya sambil  melihat laptop yang di pangku oleh Shaza.
“Kamu ngga kedinginan? Ini udah jam 2 malem. Kenapa kamu ngga tidur?”
Shaza masih terpaku. Tak menggubris pertanyaan itu.

            Dengan perlahan airmata itu terjatuh
           
Shaza menangis, lagi. Meratapi bayangan kelam masa lalu.
Dia merasa bersalah atas semua itu.
Shaza sangat menyesal.
Kepergian Rico, pun bagai El nino
Bagai badai besar yang memporak-poranda kan hidupnya.
Kini, tak ada lagi sosok yang menemaninya.
Sosok yang selalu melukiskan warna dalam hidup kelamnya.
tak ada lagi warna yang menghiasi hidupnya.
Kini, Rico tinggal kenangan.
Semua kenangan itu akan Shaza simpan dalam kotak music,
Simfoni hitam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

;

Patah, untuk tumbuh.

Mungkin